THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

07 Oktober 2009

KASIH YANG TAK TERBALAS

KASIH YANG TAK TERBALAS

Peristiwa itu masih teringat jelas melekat dikepala Damas ketika suatu hari Ia melewati sebuah pintu gerbang dari halaman sebuah gedung tempat pelatihan komputer, namun ketika kakinya akan melangkah tiba-tiba Damas dicegat oleh seorang lelaki tua dikepalanya ada sebuah topi yang tampaknya sudah usang, dan dibelakangnya tergantung sebuah tas yang tidak seberapa besar, jika dilihat dari pakaianya, tampaknya dia bukan seorang pengemis seperti yang ada dikota-kota besar saat ini, tetapi raut mukanya tampak pucat, kelopak matanya layu seperti enggak ada semangat hidup samasekali.

Damas pun berhenti dan berpikir sejenak, pikirannya mulai menunjukan gejala negatif karna saat peristiwa itu berlangsung tak satu katapun keluar dari mulutnya, sementara matanya menatap kosong kearah lelaki itu dan dalam hatinyapun sempat ‘mengumpat’ tajam.

Apa kakek ini pengemis atau orang stress ya…mengapa ia menghalangi jalanku?…”, sementara Damas masih terdiam bingung, tiba-tiba kakek inipun berkata sambil mengulurkan tangannya yang tampak bergetar dengan suara yang terdengar sedikit memelas namun tampak tegas, dan sebuah kalimat muncul dari mulutnya.

Na’k…boleh bapak minta uang seribu, buat beli nasi…Cuma minta seribu koq na’k bapak kehabisan bekal buat pulang” ujarnya dengan suara layu.

Tergerak oleh rasa belas kasihan Damas mencoba meraba-raba saku baju dan saku celananya yan sudah tampak bolong dan tak ketinggalan tas kecil yang selalu dibawanyapun juga turut diperiksa, namun tak sepeserpun uang logam apalagi uang kertas ribuan yang diberikanya, hatinya mulai gelisah tak karuan…, maklum sebagai anak kost diakhir bulan gajih belum dikirim ortu apalagi uang yang pinjaman dari sobat-sobatku belum juga kukembalikan, kenangku dalam hati sambil terus mencari.

Dan dengan rasa sedih Damas pun berkata pada kakek tua itu dengan hati yang sangat menyesal karna tidak ada satu barangpun apalagi makanan dan uang yang bisa Ia diberikan.

Pak… aku minta maaf, sekarang ini aku lagi enggak punya uang sepeserpun…” kataku singkat sambil terus mencari recehan atau apapun yang bisa aku berikan padanya.

Namun diwajahnya tidak tampak rasa marah dan kecewa ataupun sedih dengan permintaan maafku tadi, malahan dia menjawab sembari tersenyum tulus.

Ooo..justru saya yang minta maaf ,na’k”, sambil berlalu meninggalkanku dipintu gerbang sendirian dengan seribu sesal.

Ketika bayangan kakek tadi lenyap ditelan pepohonan yang rimbun, Damas pun melangkahkan kakinya untuk segera pulang kebetulan waktu itu jalan kaki masih difavoritkan, selain ringan di ongkos bisa sambil berolahraga, namun ada sedikit rasa bersalah dan kecewa dalam diri Damas, Ia pun mulai men-justifikasi dirinya sendiri dan berkata dalam hati

Kenapa aku tidak bisa membantu sedikitnya satu orang saja hari ini?...selama ini Tuhan t’lah memberi yang terbaik untuku, tapi mengapa aku tidak bisa memberi yang terbaik buat Tuhan lewat saudara-saudaraku yang membutuhkan uluran tanganku...,apa gunanya hidupku untuk mereka?...Tuhan ampunilah aku!” gumamnya dengan penyesalan yang dalam sambil menyusuri gang kecil yang tampak sepi.

Kemudian Ia teringat dengan beberapa ayat firman Tuhan yang pernah menjadi ayat hafalanya dan yang selalu mengingatkanya akan kebaikan Tuhan dalam hidupnya sekaligus menjadi rambu-rambu lalulintas ketika Ia menjalani hidupnya yang penuh persoalan.

Sambil terus melanjutkan perjalanan pulangnya yang tak seberapa jauh lagi, Damas pun membolak-balik buku catatanya, Ia mencari dua ayat yang pernah Ia catat karena sebagai manusia IQ nya nggak tinggi-tinggi amat alias diatas standar. Dan dengan susah payah akhirnya ayat tersebut Ia temukan. (Lukas 6:31 dan 36 “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti bapamu adalah murah hati”) ’Tuhan memang sungguh baik!’ ujarnya dengan raut muka yang kembali segar walau masih ada sedikit rasa penyesalannya .


By : Eduardo edho


0 komentar: