Oleh : Timothy Adjie
Sewaktu kami kecil dahulu, kira-kira ketika saya masih berusia empat tahun. Pada minggu pagi yang indah, dimana semua anak-anak tengah mempersiapkan diri untuk datang beribadah ke Sekolah Minggu di Gereja dan berjumpa dengan teman-teman sebaya yang bersama-sama bernyanyi dan menari di sana, Ibu kami pun ikut membantu kami mempersiapkan diri memakaikan pakaian rapi yang sama kepada kami lalu berkata, “Oke, anak-anak Ibu sudah cakep-cakep dan rapi-rapi ya. Sekarang saatnya berangkat, Tuhan memberkati kalian.” Sampai akhirnya kami siap dan membawa Alkitab kami masing-masing di tangan kami sambil bertanya-tanya di dalam benak mengenai apakah cerita Alkitab yang akan diceritakan oleh Guru Sekolah Minggu kepada semua anak-anak minggu ini. Wah, kami tidak sabar lagi untuk mendengarkannya. Siaplah sudah si Acil (nama panggilan saya sewaktu kecil) bersama kakak lelakinya, saya memanggil nama kakak saya “Masyo”, berpamitan kepada Ayah dan pergi beribadah ke Sekolah Minggu menaiki mobil jemputan Gereja.
Memang sungguh menyenangkan ketika kami dapat kembali menikmati suasana Sekolah Minggu setelah menunggu satu minggu sebelumnya. Bernyanyi, menari dan bermain bersama teman-teman sebaya memang membahagiakan. (Setidaknya kami tidak merasa bosan seperti belajar di ruang kelas, di Sekolah). Di antara banyaknya teman-teman yang beribadah, saya memperhatikan bahwa saya tidak melihat satu orang pun disana yang lebih mirip dengan saya baik dari wajah maupun pakaian saya. Kecuali satu orang, tidak lain tidak bukan adalah kakak kandung saya yang pula bersama-sama dengan saya ke Sekolah Minggu ini. Pakaian kami sama tetapi dengan ukuran yang berbeda. Saya ingin beritahu kepada Anda bahwa Orangtua kami membelikan banyak pakaian yang sama untuk kami berdua, kadang termasuk untuk kakak perempuan kami. Kami seperti anak kembar, namun tidak memiliki ukuran tubuh yang sama. Pada tahun-tahun seperti itu, kami sering berfoto bersama.
Kami menikmati masa kecil dengan bahagia bersama Orangtua. Tidak ada hal lain yang saya pikir dan lakukan selain untuk menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Maklum, saya dan kakak saya hanya berbeda usia dua tahun. Lalu, apa yang saya rasakan? Saya bahagia. Sehingga kami dapat benar-benar menjadi saudara dan sekaligus teman sepermainan di masa kecil.

0 komentar:
Posting Komentar