SUMBER : Kompasiana.com
Ketika Paulus sedang melakukan perjalanan ke Athena. Ia menjumpai sebuah altar tanpa berhala, yang cukup membedakannya dari tempat-tempat di sekelilingnya. Sebuah inskripsi dalam bahasa Yunan dipahatkan pada altar kosong itu : Agnosto Theo. Inskripsi ini dalam Alkitab Al-Muqadas (Alkitab berbahasa Arab) diterjemahkan dengan sangat tepat: ila al-Ilah al-majhul. Artinya “Kepada ilah (sembahan) yang tidak dikenal. (Kisah 17:23).
Dikisahkan, inskripsi Agnosto Theo dipahatkan atas petunjuk filsuf Epimenides, ketika bangsa Athena menghadapi bencana wabah yang mematikan. Rakyat Athena sudah meminta tolong kepada ribuan dewa yang patung-patungnya dideretkan di sekitar bukit Mars, tetapi hasilnya nihil. Wabah itu tetap melanda.
Epimenides yang seorang Kreta, diminta oleh para tua-tua Athena untuk mengadakan perdamaian dengan salah satu dewa lagi. Hal ini sebenarnya aneh mengingat reputasi orang Atena sebagai kamu musyrikin no 1, pengumpul dewa-dewa no. 1.
“Kalau ribuan dewa ini tidak mejawab doa-doa kita, kata sang filsuf, “kesimpulan logis saya, pastilah ada satu-satunya Dewa yang Mahakuasa – yang entahlah – kita tidak ahu siapa nama-Nya. Ya, kita benar-benar tidak mengenal Dia, yang namanya tidak kita ketahui, dan oleh karena itu tidak ada patung di kota ini yang mewakilinya. Yang kedua, bahwa Dia cukup berkuasa dan cukup baik hati untuk meredakan wabah ini, asal kita memohon bantuannya.” Sang filsuf mengajak seluruh rakyat Athena memohon pertolongan dewa yang tidak dikenal itu.
Akhir cerita orang-orang Athena membangun altar di Bukit Mars dengan memahatkan kata-kata Agnostos Theo pada sisi altar sesuai anjuran Epimenides. Kemudian setiap domba yang “sudah dibaktikan” itu mereka persembahkan sebagai kurban di atas altar yang menandai tempat hewan itu berbaring. Malam pun tiba. Pada waktu fajar keesokan harinya, cengkeraman maut wabah terhadap kota itu mulai melonggar. Dan dalam waktu seminggu orang-orang yang kena wabah itu berangsur-angsur sembuh. Penduduk Athena tak henti-hentinya memuji “Allah yang tidak dikenal” yang diperkenalkan oleh Epimenides itu.
Plato di dalam bukunya Laws mengisahkan tentang Apimenides. dengan menyebutnya sebagai “orang yang berinspirasi” dan menghargainya sebagai salah seorang dari tokoh-tokoh besar yang membantu umat manusia mendapakan kembali penemuan-penemuan yang hilang selama “Banjir Besar.”
Mereka hanya menuliskan Angosto Theo dan tidak membuat patung bagiNya sebagaimana kebiasan mereka. Mengapa? Ya, karena mereka sama-sama tidak pernah melihat dan mengenal Dia.
Agnosto Theo, “ilah yang tidak dikenal” yang pernah menyelamatkan bangsa Athena itu tidak lain adalah Allah yang mengatasi segala ilah. Allah, Khalik Alam yang dikenal melalui Isa Almasih. Karena itu , menjawab tuduhan beberapa orang Athena bahwa Paulus telah memberitakan dewa-dewa asing, Paulus berkata: “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kubertakan kepadamu. (Kis 17:23).
* * *
Enam abad kemudian, di tanah Palestina, Sang Firman, Isa Almasih saat sedang berjalan-jalan di tanah kaum musyrikin, Samaria, berhenti di tepi sebuah sumur dan bercakap-cakap dengan perempuan Samaria.
Kata peremuan itu kepadaNya, “Ya Tuan, tentunya Engkau adalah seorang Nabi. Nenek moyak kami menyembah Allah di atas bukit ini, tetapi bangsa Tuan (Israel, red) berkata bahwa Yerusalemlah tempat yang patut untuk menyembah Allah.”
Sabda Isa kepadanya, “Hai perempuan, percayalah kepada-Ku, akan tiba waktunya kamu akan menyembah Sang Bapa bukan lagi di atas bukit ini atau di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, sedangkan kami menyembah apa yang kami kenal, karena keselamatan itu datang dari bani Israel. Tetapi waktunya akan tiba dan sedang tiba, bahwa para penyembah sejati akan menyembah Sang Bapa di dalam ruh dan kebenaran, karena Sang Bapa mencari para penyembah yang demikian. Allah itu Ruh, dan barangsiapa menyembah Dia, ia harus menyembah-Nya dalam ruh dan kebenaran.”
Kata perempuan itu kepadaNya,”Aku tahu bahwa Mesias, yang disebut Almasih itu, akan datang. Apabila Ia datang. Ia akan memberitahukan segala perkara kemapda kami.”
Sabda Isa kepada perempuan itu, “Akulah Dia, yang sedang bertutur kata denganmu.” (Yahya 4:19-26)
* * *
Adalah suatu yang aneh, seorang Yahudi berjalan melintasi daerah orang kafir, bercakap-cakap dengan seorang kafir, apalagi perempuan kafir dan lebih-lebih lagi meminta perempuan itu untuk mengambilkan air baginya.
Sebuah terobosan budaya dan kepercayaan yang luar biasa ditengah prasangka stereotype dan entocentrisme yang luar biasa, tetapi justru disitulah Isa Almasih hadir ditengah-tengah kaum ini dan menyingkapkan pengertian kaum Samaria terhadap Allah yang sejati, dan akhirnya mereka menerima berita Injil itu dari sumbernya yang pertama.
Isa Almasih, Sang Firman, mengosongkan dirinya, menjadi manusia dan melintasi ruang serta waktu, hadir di dalam perjumpaannya dengan perempuan Samaria (yang adalah kaum musyrikin dalam pandangan kaum Yahudi) untuk mengenalkan Allah yang tidak dikenal itu kepada mereka. Demikian juga Rasul Paulus berjalan-jalan ditengah kota Athena, kotanya orang musyrikin dan menemukan inskripsi Agnosto Theos (Allah yang tidak dikenal) pada sebuah altar tanpa patung, sebagai dasar dakwahnya kepada penduduk Athena.
Mendeklarasikan Allah yang transendent, yang tingi dan tidak terselami, namun juga yang bersama dengan kita sehingga kita bisa mengalami anugrah dan kebenaranNya. Bahkan dengan radikal kita bisa memanggilnya Sang Bapa. Sebuah relasi yang tidak didasarkan karena pertalian darah atau keinginan seorang laki-laki atau perempuan, tetapi di dalam Roh dan Kebenaran Nya.
Sesungguhnya mata Allah menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkah kasihNya kepada mereka yang sungguh-sungguh hati mencari Dia.
19 Oktober 2009
MENEMUKAN JEJAK ALLAH DIANTARA KAUM MUSYRIKIN
Diposting oleh Timoho Story di 00.14
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar